Jumat, 06 Mei 2011

Asal-usul Cut Nyak Dhien

Cut Nyak Din dilahirkan kira-kira dalam tahun 1850, di Kampung Lampadang, wilayah VI Mukim, Aceh Besar. Ayahnya bernama Nanta Muda Seutia, berasal dari turunan Makhdum Sati, seorang perantau dari daerah Sumatra Barat. Ia adalah cikal-bakal yang membangun wilayah VI Mukim menjadi lebih terkenal dan makmur. Ibunya seorang turunan bangsawan yang terpandang dari Kampung Lampagar. Karena istrinya inilah maka nama Nanta Muda Seutia makin terkenal dan dihormati oleh rakyat VI Mukim. Pada waktu sebelum Nanta menjadi uleebalang, wilayah VI Mukim dipimpin oleh Uleebalang Teuku Nek dan pusat kedudukannya berada di Meuraksa. Ia menjalankan pemerintahan wilayah VI Mukim kurang adil dan kurang bijaksana. Rakyat sangat tertekan dan menderita oleh tindakan pemerasan yang dilakukan oleh Teuku Nek. Karena praktek yang merugikan ini, ia tidak disenangi oleh rakyat VI Mukim.


Pada abad ke-I 7 kekuasaan Aceh telah meluas sampai ke Sumatra Barat. Daerah ini sangat penting artinya bagi Aceh baik dalam bidang politik maupun dalam bidang ekonomi. Dalam bidang politik berarti Aceh telah menanamkan kekuasaannya dan daerah ini merupakan "vazal". Sedangkan dalam bidang ekonomi daerah ini merupakan penghasil lada yang sangat penting dalam pasaran dunia dan dengan menguasai daerah tersebut berarti dapat menarik keuntungan yang banyak bagi Aceh. Karena perkembangan ini Ratu Tajjul Alam mengangkat Uleebalang Panglima Nanta untuk mengatur dan mengawasi daerah vazal ini. Salah seorang keturunannya, ialah Makhdun Sati. Dalam tubuh Makhdun Sati mengalir darah Aceh dan darah Minangkabau.
         Dalam zaman pemerintahan Sultan Jamalul Alam (1703 — 1726), Makhdun Sati beserta rombongan yang terdiri 12 perahu berlayar menuju arah utara melalui pantai barat Pulau Sumatra. Pelayaran ini terdorong oleh adanya berita yang menarik hati mereka, bahwa diujung utara Pulau Sumatra banyak terdapat kekayaan alam yang terpendam berupa emas. Dengan menempuh perjalanan panjang dan lama, rombongan Makhdun Sati sampai di Pasir Karam. Daerah ini terletak di pantai barat Aceh dekat Meulaboh. Kemudian rombongan ini tinggal menetap untuk membuat perkampungan dan melalui hidup baru biarpun daerah ini masih asing bagi mereka. Ketika rombongan Makhdum Sati mendarat di Pasir Karam, sepasukan tentara Aceh sedang bertempur menghadapi pengacau suku Mantir yang belum memeluk ajaran Islam.8' Pasukan Aceh yang sedikit jumlahnya ini hampir terdesak oleh pengacau Mantir yang lebih banyak jumlahnva. Melihat tekanan yang diberikan suku Mantir, Makhdun Sati dengan rombongannya yang merasa berkewajiban menolong sesama Islam memberikan bantuan. Kerjasama yang rapi menvebabkan gerombolan pengacau Mantir dapat dikalahkan dan mereka yang tinggal melarikan diri ke arah hulu ke pegununggan. Dengan kekalahan suku Mantir, daerah ini menjadi aman. Sebagai rasa terima kasih kepada bantuan Makhdun Sati. pimpinan pasukan Aceh dengan ikhlas memberikan daerah Pasir Karam untuk dibagi-bagikan kepada rombongan Makhdun Sati sebagai tempat tinggal mereka. Kemudian dengan penuh ketekunan mereka membuka persawahan dan peladangan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Rumah-rumah dibangun dengan bergotong-royong, sesuai dengan rumah adat yang ditinggalkannya, dalam waktu singkat Makhdun Sati serta pengikutnya telah menjadi orang-orang makmur.
Selanjutnya mereka dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat setempat, sehingga persaudaraan terjalin secara akrab seperti di kampung yang di tinggalkannya. Kemudian Makhdun Sati berserta rakyatnya menyatakan kesetiaannya kepada kekuasaan Sultan Aceh. Karena tidak adanya kepuasan, maka Makhdun Sati membawa rakyatnya bergerak ke utara lagi ke muara Sungai Wolya. Daerah ini lebih subur daripada daerah Pasir Karam Daerah ini terletak antara daerah Pidie dan Gleupang. Kemudian mereka membuka persawahan dan ladang untuk menanam lada. Di samping itu mereka menemukan bijih emas yang dibawa arus Sungai Wolya. Kerena itu rakyat Makhdun Sati setiap hari dengan tekun mengumpulkan bijih-bijih emas pada tempat ini. Dengan penuh ketekutan mereka dapat mengumpulkan emas dalam jumlah yang banyak. Berkat kemakmuran yang diperoleh rakyat. Makhdun Sati membangun sebuah kota di Kuala Bie sebelah utara Pasir Aceh lengkap dengan rumah adatnya. Kota ini menjadi kota dagang dan terus berkembang serta menjadi lebih ramai dengan kedatangan pedagang dari berbagai penjuru . Perkembangan kota menjadi kota dagang turut mengangkat nama Makhdun Sati. Rakyatnya makin makmur karena dapat mengambil keuntungan dari pedagang tersebut.
 Berita kemakmuran daerah Makhdun Sati terdengar oleh Sultan Aceh yang berkuasa. Daerah ini merupakan wilayah Aceh yang harus tunduk pada peraturan sultan. Setiap daerah harus menyerahkan upeti kepada sultan sebagai tanda setia. Karena itu sultan mengirim utusan kepada Makhdun Sati sebagai penguasa daerah agar menyerahkan upeti. Tetapi Makhdun Sati dengan keras menolak apa yang dikehendaki Sultan Aceh. Sebagai rasa tidak senang, ia menyerahkan upeti kepada sultan berupa besi tua yang berkarat sebagai persembahan. Menerima itu sultan sangat marah, ia merasa dihina oleh perbuatan Makhdun Sati. Karena itu sultan mengirim sepasukan tentara di bawah pimpinan Panglima Penghulu Perahu dari Keumangan untuk mengambil tindakan. Pasukan Penghulu Penaru dapat menghancurkan kekuatan Makhdun Sati. Hampir Makhdun Sati dapat ditawan dan dibawa menghadap sultan Aceh. Karena kesalahannya yang berat, yakni melawan kekuasaan yang sah dengan menggerakkan rakyatnya, maka majelis pengadilan kerajaan menjatuhkan hukuman mati buat Makhdun Sati. Tetapi dengan beberapa pertimbangan sultan mengambil kebijaksanaan untuk memberi ampunan atas kesalahan yang diperbuat Makhdun Sati. Makhdun Sati menginsafi tindakkannya yang salah, karena itu setelah diberi ampunan, ia mengabdi kepada sultan Aceh. Karena itu ia diangkat oleh suitan menjadi barisan pengawal istana kesultanan dan ia mendapat tempat di wilayah VI Mukim, dekat Betay.
Pada masa pemerintahan Sultan Alaidin Muhammad Syah (1787 — 1795) timbul sedikit keguncangan politik dalam pemerintah Aceh, sungguh pun Sultan telah berusaha menjalankan pemerintahan dengan baik. Ia berusaha menempatkan diri dengan adil dan terus mengadakan hubungan baik dengan Panglima Sagi XXII Mukim yang masih mempunyai hubungan darah dengan Sultan Iskandar Muda. Tetapi karena suatu hal kecil saja. Panglima Sagi XXII Mukim merasa sakit hati pada sultan. Karena hal tersebut. Panglima Sagi XXII mengerahkan kekuatannya untuk menyerang kraton hendak menjatuhkan sultan dan akan menggantikannya. Serangan dilakukan dari berbagai jurusan. Hubungan istana ke luar diputuskan; suplai makanan ke istana diawasi dengan ketat, sehingga istana hampir kehabisan bahan makanan. Panglima Istana yang mengatur pertahanan tak dapat berbuat banyak. Mereka hanya bertahan dalam benteng menunggu kehancuran. Sedangkan serangan yang dilancarkan pasukan Panglima Sagi XXII Mukim makin rapat dan sangat mencemaskan isi kraton.
 Dalam kemelut yang menentukan ini, kalah atau menang Makhdun Sati dengan pengikutnya datang dari VI Mukim secara diamdiam di waktu malam memberikan bantuan kepada sultan. Pasukannya bergerak cepat memotong pasukan Panglima Sagi XXII Mukim dan berusaha terus mendesak keluar. Sebelum fajar menyingsing pasukan tersebut telah dapat memukul mundur pasukan Panglima Sagi XXII Mukim dan pasukan penyelamat secara diamdiam pula menghilang kembali ke VI Mukim. Kiranya bantuan ini dapat menyelamatkan kedudukan sultan.
Atas jasa Makhdun Sati kepada Sultan Alaidin Muhammad Syah, sultan menganugrahkan pangkat kehormatan kepadanya menjadi Panglima Sagi dan dengan nama tambahan "Nanta", seperti nama neneknya. Dan karena kesetiaannya kepada sultan, namanya menjadi Seutia Raja. Kemudian ditambahkan pula nama kebesaran, Uleebalang Poteo, '"' vang artinya hulubalang sultan dan bebas dari Panglima Sagi.
Keputusan sultan tersebut dicantumkan sebagai tambahan dalam Undang-undang Mahkota Alam. Dengan demikian namanya secara lengkap menjadi Panglima Nanta Cik Seutia Raja. Setelah kedudukannya dikukuhkan sultan Aceh, daerah kekuasaan Nanta Cik diperluas dengan menambah pulau-pulau yang terletak dipantai wilayah VI Mukim. Kepadanya diberikan kekuasaan penuh untuk mengatur daerah tersebut seperti pengaturan kapal dan perahu keluar-masuk dan memungut bea cukai lain-lainnya.
Nama kebesaran dan kedudukannya boleh terus diwariskan kepada anak-cucunya.
Kedudukan Nanta makin bertambah kuat setelah ia kawin dengan anak Teuku Nek bangsawan dari Meuraksa. Teuku Nek adalah seorang yang terpandang dan di segani. Ia pernah diangkat menjadi panglima perang dalam masa pemerintahan Sultan Sulaiman Syah. Dari perkawinan ini lahirlah Teuku Nanta Muda Seutia dan Teuku Cut Muhammad Teuku Nanta Muda Seutia kawin dengan anak bangsawan Lampagar. Anaknya adalah Teuku Rayut dan Teuk Cut Nyak Din. Teuku Rayut akalnya kurang sempurna sehingga ia tidak diharapkan oleh Nanta untuk menggantikan kedudukannya sebagai uleebalang di VI Mukim. Karena itu Teuku Nanta lebih banyak memperhatikan Cut Nyak Din. Ia mengharapkan Cut Nyak Din dapatmeneruskan kedudukannya sebagai pemimpin di VI Mukim. Teuku Muhammad kawin dengan Cut Mahani, adik keujuran Abdul Rahman dari Meulaboh. Anaknya enam orang, dua perempuan dan empat laki-laki. Yang laki-laki antara lain Teuku Cut Ahmad, Teuku Puteh, Teuku Umar dan Teuku Musa. Di antara keempat anak ini yang paling menonjol hanyalah Teuku Umar.

4 komentar:

  1. Mau keturunan Hantu atau keturunan suku langit, yg jelas Karakter Cut Nyak Dien terbentuk karena Lingkungannya bukan faktor Keturunan aka Genetika :)

    BalasHapus
  2. semangat juang dan prinsip yang dipegang teguh, merupakan contoh bagi wanita Aceh lainnya. beliau mampu menjadi sosok wanita yang pejuang sejati.

    BalasHapus
  3. Aceh membuktikan bahwa Aceh memiliki sosok wanita pejuang sejati kepada seluruh dunia :)

    BalasHapus