Minggu, 08 Mei 2011

Pepatah-pepatah Aceh

1. Pepatah-pepatah yang berhubungan dengan kepercayaan.
Pepatah-pepatah yang berhubimgar: dengan kepercayaan (agama) selalu berorientasi kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Ungkapan-ungkapan yang tercetus dalam pepatah-pepatah itu memberi peringatan kepada manusia, bahwa Tuhan itu ada dan mereka jangan sampai tersesat dalam penghidupan ini. Juga dianjurkan kepada manusia untuk berbuat kebajikan, sehingga mereka dapat terhindar dari siksaan di maksar nanti. Justru itu banyak terdapat pepatah-pepatah dalam masyarakat Aceh yang mengandung nilai-nilai pendidikan, akhlak yang mulia, yang menjurus kepada pendekatan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa seperti: 
  Bunda ngon ayah, teulhee ngon guree.
Ureung nyan ban Ihee tapeumidia
Pat pat na salah meuah talakee.
Dudo meuteuntee neubri syiruga

Ibu dengan ayah, ketiga dengan guru.
Orang itu ketiganya harus dimuliakan
Dimana ada salah, minta dimaafkan
Akhirat nanti diberi syurga.

Melihat ungkapan diatas berbentuk syair, tetapi sudah merupakan pepatah nasehat yang berhubungan dengan kepercayaan (agama) yang sering dianjurkan kepada anak-anak atau pendengarnya supaya berbuat baik kepada ketiga orang tersebut sehingga mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa (Allah).
                             
2.                               Syeeruga nyan diyup gaki Ma.
Surga itu dibawah telapak kaki ibu.
Arti daripada pepatah itu, menunjukkan bahwa ibu kita mendapat tempat yangteratas dalam pandangan agama, sehingga ditamsilkan seolah-olah surga itu ada dibawah telapak kaki ibu. Begitulah pentingnya manusia itu berbakti kepada ibunya, sehingga apabila seseorang itu durhaka kepada ibunya, Tuhan (Allah) tidak menyediakan surga kepada yang mendurhakai ibunya.

3.                              LAILAH HAILLALLAH, KALIMAH THAIBAH PAYONG PAGEE.
SOU NYANG AFAI KALIMAH NYAN, SEULAMAT IMAN DIDALAM HATEE.
Lailah haillallah, kalimah taubah payung kiamat.
Siapa yang hapal kalimah itu. Selamat iman didalam hatinya.
Artinya:
Ditamsilkan kepada seseorang hamba Allah yang taat mengerjakan ibadah, kepadanya akan diberikan balasan yang setimpal dihari kiamat sesuai dengan amal perbuatannya.

4.                              Umum geutanyo hana siuro simalam
Oleh sebabnyan taubat teu bakna.
Umur kita tidak ada sehari semalam
Oleh sebab itu, supaya bertaubatlah
Artinya:
Ditamsilkan umur manusia itu pendek sekali (sehari semalam).
Justru itu dianjurkan kepada manusia, supaya selalu bertaubat
kepada Tuhan (Allah).

5.                                Adat meukoh reumbong, hukom meukoh pureh.
Adat jeub beurangho takong, hukom hanyeut talanggeuh.
Adat berpotong rebung, hukum berpotong lidi.
Adat bisa saja dihindari, hukum tidak bisa dibantah.
Maksudnya:
Hukum Tuhan adalah hukum yang lebih sempurna daripada
ciptaan manusia. Oleh karenanya tak boleh diganggu gugat.

6.                             Abeh nyawong Tuhan tung
Abeh areuta hukom pajoh
Habis nyawa Tuhan yang ambil
Habis harta hukum yang makan.

Artinya:
Kemana saja kita pergi pada suatu saat kita akan dipanggil menghadap Tuhan.

7.      Yoh na teuga taibadat
Tahareukat yohgoh matee
Selagi kuat beribadatlah
Berusahalah mencari rezeki sebelum mati.
Artinya:
Masa dan waktu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, untuk beribadat kepada Allah, disamping dipergunakan pula untuk mencari kebutuhan hidup. Pepatah ini berbentuk dua guna (dwi fungsi) boleh sebagai pepatah dalam penghidupan sehari-hari..

Ada sebuah pepatah adat yang berorientasi dengan pepatah keagamaan berbunyi: "Adat ngon hukom, seperti zat dengan sifat".
Artinya:
Adat ciptaan manusia bergandengan dengan hukum Tuhan, (agama), barulah adat itu kuat dan dapat dipertahankan.

Di dalam masyarakat Gayo pepatah adat yang berorientasi dengan hukum berbunyi: Edet mengenal, hukum membaca (adat mengenal atau mencari, hukum menimbang).
Artinya:
Segala keputusan adat, tidak selamanya menjadi normanorma agama. Keputusan-keputusan adat selalu di interprestasikan kedalam hukum agama, apakah sejalan atau tidak. Bila keduanya telah bergandengan, maka hal itu sudah dipandang sempurna.
Begitulah pepatah-pepatah yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat selalu berkaitan antara adat dengan agama. Sehingga ada pula pepatah-pepatah itu dapat disamakan sebagai pepatah kepercayaan, di samping berpungsi sebagai pepatah adat seperti tersebut diatas.

2. Pepatah-pepatah yang berhubungan dengan adat istiadat.
Mengingat adanya daerah empat adat dalam penelitian ini yakni daerah adat istiadat Aceh, adat istiadat Gayo, adat istiadat Aneuk Jamee dan adat istiadat Tamiang, dalam mengungkapkan pepatah-pepatah adat itu, terdapat perbedaan sebutan (kata) atau ejaan, tetapi mengandung maksud (pengertian) yang sama dalam penghidupan masyarakat.
Misalnya:        Adat bak po teumeureuhom, hukum bak syiah Kuala,
Kanun bakputro Phang, Reusam bak Lakseumana (bentara)
Adat ngon hukum lage Zat ngon sifeut.
(Adat yang berlaku adalah pada kekuasaan Raja, sedangkan hukum yang dijalankan adalah menurut keputusan para Ulamanya, dan tata cara pelaksanaan sehari-hari terserah kepada tuan putri, sementara resam basi yang berjalan serta keamanan negeri dipulangkan kepada Laksamana atau Bentara (para Panglim Perang). Adat dan hukum seperti zat dan sifat.
Pepatah peninggalan zaman kejayaan kerajaan Aceh yang telah diungkapkan diatas, yang merupakan "Pola Umum" dari seluruh gerak penghidupan masyarakat Aceh sejak dahulu sampai
sekarang diungkapkan dalam bahasa Aceh, tetapi pepatah itu sama dimengerti oleh masyarakat Aceh yang berbahasa Aneuk Jamee, yang berbahasa Tamiang. Sehingga perubahan demi perubahan dalam waktu yang lama dalam bahasa setempat, apakah dalam bentuk kata-kata atau ejaan, tujuan dari pepatah itu sama.
Selanjutnya pepatah-pepatah adat yang terdapat di daerah ini demikian banyak dan kaya baik dalam bentuk perbendaharaan bahasa maupun variasi-variasinya. Untuk itu dapat diikuti sebagai berikut:
Raje adil
Raje disembah
Raje lalim
Raje disanggah
Pepatah yang sama terdapat pula dalam masyarakat adat Aneuk Jamee, yang berbunyi sebagai berikut:
Rajo adil
Rajo disembah
Rajo lalim
Rajo disanggah
Dalam penghidupan masyarakat adat Aceh papatah adat tersebut diungkapkan sebagai berikut:
Raja adee,
Raja geuseumah
Raja laleem
Raja geusanggah.
Artinya ;
Raja adil,
Raja disembah
Raja lalim
Raja disanggah (ditendang)
Artinya:
Setiap raja yang memerintah dengan adil, bijaksana, pemurah dan jujur perlu disembah atau diikuti, tetapi kalau raja lalim (asal kata dari dhalim bahasa Arab) bertindak sewenang-wenang dalam memerintah perlu pula disanggah atau ditendang.
Dari beberapa contoh ungkapan pepatah adat yang dinyatakan dalam bahasa setempat, jelas kepada kita adanya kesamaan makna dan tujuan yang dikandung oleh pepatah adat tersebut walaupun dialeknya berbeda. Oleh karena itu tidak terlalu sukar untuk mencari persamaan makna pepatah-pepatah adat yang terdapat di daerah itu, dan masyarakat adat Aneuk Jame selanjutnya diketemukan pepatah sebagai berikut :
Alah satantang bana urek same buku
Alah sesuai au jo pinago
Ibarat pinang pulang ka tampuak
Sirih baliek ka guyanggayo
Pucuak dicinto ulam tibo
Kuah tatunggang diaten nasi
Lai kuak lai makanan
Diateh daluang hidangan tiba
Indonesianya :
Sudah tepat (persis) benar urat dengan buku
Sudah tepat (sesuai) aur dengan pinaga
Ibarat pinang pulang ketampuk
Sirih berbalik ketampuknya
Pucuk dicinta ulam tiba.
Kuah ditumpahkan di atas nasi
Tambah kuah tambah makanan
Diatas dulang makanan tiba
Artinya :
Makna dari pada pepatah adat diatas menyatakan bahwa sesuatu pekerjaan yang paling cocok, sesuai dengan paling harmonis.
Bia Sutan kito dikampuang.
Rajo di nagari,
Kalau ke rantau dagang juo
Biar bangsawan kita dikampung,
Raja di negeri
Kalau ke rantau dagang juga.
Artinya:
Walau kita keturunan baik-baik dikampung sendiri atau pun raja dinegeri sendiri, tetapi bila kita berada di tempat lain atau negeri orang lain, haruslah kita dengan kerendahan hati menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan baru.
Sehingga tidak terjadi sesuatu pertentangan dengan orang-orang setempat langsung atau tidak langsung. Dari isi pepatah ini dapat kita menarik suatu pelajaran bahwa ungkapan itu bersifat nasehat pula.
Dalam masyarakat adat Gayo ditemukan pepatah seperti:
Kami beriringen naru bertenamunen kul, terbilangan jeroh bergenap bise, bersawah langkah nikami kobatang ruang, kutete gergel dengan tujuen karena aman mayak nge serlo karlo urum kami. Pede serloni mujulen aman mayak den munenes inen mayak. Inen mayak ni ara tikik bertenemengen, ari kedepe ara sara leping, ari paya ara sara sintak, ari pepanenpe ara sara leping.
Ungkapan-ungkapan diatas berasal dari daerah bahasa Gayo yang terjadi pada saat-saat menenes (mengantar penganten) yang artinya dalam bahasa Indonesia kira-kira :
"Kami beriringan panjang, berkumpul banyak pada hari yang baik ini sudah bermufakat, dan sudah sampai ketempat ini dengan tujuan aman mayak (penganten laki-laki) ditempat isterinya bersama kami. Hari ini kami antarkan kembali aman mayak dan inen mayak (penganten perempuan) kemari. Setelah kami serahkan inen mayak disertai dengan adat sedikit, dengan berupa barang-barang dari pasar, dari pada paya dan dari tukang tempahan ada sedikit barang antaran."
Penglahiran ungkapan ini terjadi pada saat upacara menenes dilakukan oleh pihak perempuan kepada pihak laki-laki dalam bentuk perkawinan ango atau jualen.
Perlu ditegaskan apa yang terjadi di Gayo dalam upacara meminang dengan penglahiran ungkapan-ungkapan yang telah diturunkan itu. Terjadi pula di bahagian-bahagian lain di Aceh dalam bahasa atau dialek yang berbeda, tetapi mempunyai makna dan tujuan yang sama. Dalam adat Aceh terlihat beberapa pepatah yang berbunyi:
Umong meuateung,
Ureung meupeutua.
Rumoh meuadat,
Pukat meukaja.
Sawah berpematang,
Orang berpemimpin.
Rumah beradat,
Pukat berkaja.
Artinya :
Setiap masyarakat harus ada pemimpin untuk mengatur hak dan kewajiban anggota masyarakatnya, sehingga tujuan kerajaan tercapai sebagaimana mestinya. Masyarakat tidak mempunyai pemimpin yang baik, maka suatu waktu akan rubuhlah masyarakat itu.
Hukum nanggro keupakaian,
Hukum Tuhan keu kulahkama.
Hukum Negara untuk pakaian,
Hukum Tuhan untuk mahkota.

Mengandung maksud: Hukum pada sesuatu tempat atau nega ra harus dipergunakan dan dipatuhi, sebagai tatacara dalam penghidupan. Hukum Tuhan adalah merupakan pedoman hidup kita dan wajib dijunjung tinggi daripada hukum negara itu sendiri.
Matee aneuk na jeurat,
Matee adat pat tamita
Mati anak ada kuburan,
Hilang adat dimana kita harus mencarinya.

Mengandung maksud: Seandainya seseorang itu tidak lagi mematuhi peraturan-peraturan yang berlaku dalam masyarakat, berarti seseorang atau Anggota masyarakat tersebut tindak tanduknya menjurus kepada pembasmian adat istiadat yang berlaku. Kalau hal itu terjadi bagaimanakah untuk mengembalikan adat istiadat tersebut pada tempatnya semula.

3. Pepatah-pepatah yang berhubungan dengan penghidupan sehari-hari.
Pepatah-pepatah yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari sangat banyak terdapat pada penghidupan masyarakat Aceh. Ada pepatah lama dan ada pepatah yang baru, yang
setiap saat berkembang dalam masyarakat. Pada kesempatan ini kita kemukakan saja beberapa pepatah yang berhubungan dengan penghidupan sehari-hari, antara lain: :
Tajak beutroh takalon beudeuh,
Beek rugo meuh saket hatee.
Pergi sampai ke batas, melihat harus jelas,
Jangan sampai rugi mas sakit hati.

Kandungan makna: Apa yang kita dengarkan maupun yang kita kerjakan atau lakukan, haruslah kita periksa atau pikirpikir dulu, jangan sampai menyesal dikemudian hari.
Uleueu bak matee, ranteng beek patah.
But beujeut, geutanyo beek leumah.
Ular harus mati, ranting jangan patah.
Pekerjaan harus jadi, kita jangan nampak.
Kandungan arti: Menyelesaikan sesuatu perkara hendaklah dengan bijaksana, sehingga menyenangkan bagi kedua belah pihak .
Tahimat yek mantong na,
Beuteugoh thatyoh goh cilaka.
Hemat semasa masih ada,
Hati-hati sebelum celaka.
Mengandung makna: Berhematlah semasa dalam keadaan senang (berada), dan berhati-hati pula sebelum terjerumus (kena). Di daerah berbahasa Gayo (Aceh tengah terdapat pepatah yang
sama artinya denga pepatah di atas, seperti
 "Inget-inget sebelum kona, hernat jimet tengah ara."
Bulet lagu umut, tirus lagu gelas.
Bulat seperti batang pisang, lurus seperti gelas (gagang pancing).
Mengandung makna: Sesuatu kebijaksanaan- harus melalui mufakat yang bulat, untuk menuju kepada suatu tujuan.
Lemmem beramik pantas berulo.
Mengandung makna: Seseorang yang sudah tersesat pantas dinasehati atau seseorang yang selalu ketinggalan di belakang, pantas ditarik ke muka.
Dalam masyarakat adat Aneuk Jamee terdapat pepatah:
Karajo biek elok dilakeh-lakehkan, jangan diselo dek nana buruak.
Mengandung maksud: Pekerjaan yang baik itu bagus disegerakan, supaya jangan diselingi oleh yang buruk.
Di daerah masyarakat adat Aceh terdapat pepatah nasehat sebagai berikut:
Buet nyang get peureulee tapeubagah, supaya beek meu iblih.
Rudah u manyang rhot bak muka dro teuh.
Meludah ke atas jatuh ke muka sendiri juga.

Mengandung makna: Orang yang menghianati orang lain, pada suatu saat akan berlaku hukum karma (pembalasan) atas dirinya sendiri.
Geumaseeh papa, seutia matee.
Pengasih papa (miskin), setia mati (hilang nyawa).
Mengandung makna: Orang yang pengasih tidak sampai hati melihat orang lain menderita, akibatnya selalu ia berada dalam kekurangan sendiri. Demikian juga orang yang setia karena kawan, karena teman seperjuangannya atau karena keluarganya, ia akan menanggung akibat hilang nyawa karena membela kepentingan dan kehormatan atau pun keselamatan mereka dari kemungkinan-kemungkinan pengkhianatan/ penganiayaan orang lain

1 komentar: